Abstak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi antarbudaya yang
digunakan oleh komunitas Muslim Thailand dan komunitas Tionghoa Indonesia sebagai
kelompok minoritas dalam membangun hubungan sosial dengan masyarakat mayoritas.
Dalam konteks masyarakat multikultural, komunikasi menjadi sarana penting dalam
menjaga keharmonisan, membangun saling pengertian, serta menegosiasikan identitas
budaya di tengah keberagaman sosial, agama, dan politik. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan metode studi komparatif. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam, observasi, dan studi literatur terhadap kedua komunitas. Analisis
dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan persamaan dan perbedaan strategi
komunikasi antarbudaya yang diterapkan oleh masing-masing kelompok minoritas dalam
menyesuaikan diri dengan budaya mayoritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
komunitas Muslim Thailand cenderung menerapkan strategi komunikasi yang akomodatif
dan sopan dengan menekankan kehati-hatian serta penyesuaian terhadap budaya mayoritas
Buddha. Strategi ini mencerminkan orientasi kepedulian wajah bersama (mutual-face
concern) melalui bentuk obliging dan compromising sebagaimana dijelaskan dalam Face
Negotiation Theory oleh Ting-Toomey. Sementara itu, komunitas Tionghoa Indonesia
menunjukkan kecenderungan avoiding dan integrating, dengan fokus pada kerja sama
sosial dan ekonomi bersama masyarakat mayoritas Muslim untuk menjaga keharmonisan
sosial. Kedua komunitas menunjukkan bahwa kesadaran lintas budaya, pengetahuan sosial,
serta keterampilan komunikasi reflektif berperan penting dalam menciptakan hubungan
yang damai di tengah perbedaan budaya.
Kata Kunci: Strategi Komunikasi, Antarbudaya, Minoritas, Face-Negotiation Theory,
Komunitas Muslim Thailand, Komunitas Tionghoa Indonesia