Back


Detail Data

Fakultas FAKULTAS AGAMA ISLAM
Program Studi HUKUM KELUARGA ISLAM
Judul ANALISIS KEABSHAN TAKLIK TALAK SEBAGAI ALASAN PERCERAIAN MENURUT KOMPILASI HUKUM ISLAM DI INDONESIA & ENAKMEN UNDANG-UNDANG KELUARGA ISLAM KUALA TERENGGANU
Tahun 2026
Tanggal Input 24 Aug 2026, 15.03



Abstak

Mahilla Qurrotul A.Yuni
221105020735

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan keabsahan normatif,
prosedur praktik persidangan, serta implikasi yuridis taklik talak terhadap perlindungan
hukum bagi perempuan di Indonesia dan Negeri Terengganu, Malaysia. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian hukum komparatif dengan pendekatan perundang
undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian menunjukkan
adanya keaslian berupa perbedaan fundamental pada karakteristik naskah taklik. Di
Indonesia, berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI), taklik talak dikonstruksi bersifat
insidental, di mana kekuatan hukumnya berakhir setelah putusan hakim dijatuhkan.
Sebaliknya, regulasi di Terengganu melalui EUUKI menetapkannya sebagai kewajiban
yang bersifat berkelanjutan (continuous) melalui diksi “tiap-tiap kali”, yang
memberikan kepastian hukum bahwa janji tersebut tidak gugur meskipun terjadi
peristiwa rujuk.
Dalam praktik peradilan, Pengadilan Agama di Indonesia menjatuhkan Talak Satu
Ba’in Sughra untuk mencegah rujuk sepihak, sementara Mahkamah Syari’e Kuala
Terengganu menjatuhkan Talak Raj’i dengan konsekuensi taklik lama otomatis aktif
kembali demi hukum. Perbedaan ini mencerminkan filosofi perlindungan yang berbeda:
Indonesia mengedepankan prinsip “Lembaran Baru” (Tabula Rasa) demi otonomi istri,
sedangkan Terengganu menitikberatkan pada Pengawasan Preventif yang melekat
permanen selama masa pernikahan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun
memiliki prosedur berbeda, kedua yurisdiksi bertujuan mewujudkan kemaslahatan dan
perlindungan bagi perempuan melalui ijtihad hukum yang sesuai dengan konteks negara
masing-masing.
Kata Kunci : Taklik Talak, KHI, EUUKI Terengganu, Perbandingan Hukum.

This study aims to analyze the comparison of normative validity, court practice
procedures, and the juridical implications of taklik talak on legal protection for women
in Indonesia and the state of Terengganu, Malaysia. The study employs a comparative
legal research method with both a statutory approach and a conceptual approach. The
results indicate originality in the form of fundamental differences in the characteristics
of taklik agreements. In Indonesia, according to the Compilation of Islamic Law (KHI),
taklik talak is constructed as incidental, meaning its legal effect ends once a judge issues
a ruling. In contrast, Terengganu regulations through EUUKI establish it as a continuous
obligation using the phrase “each time,” which provides legal certainty that the promise
remains valid even if a reconciliation occurs.
In judicial practice, Religious Courts in Indonesia impose Talak Satu Ba’in Sughra to
prevent unilateral reconciliation, while the Syari’e Court of Kuala Terengganu imposes
Talak Raj’i with the consequence that the long-standing taklik is automatically reinstated
by law. This difference reflects distinct protection philosophies: Indonesia emphasizes
the 'New Sheet' (Tabula Rasa) principle for the autonomy of the wife, whereas
Terengganu focuses on Preventive Supervision that remains permanently in effect during
the marriage. This study concludes that although the procedures differ, both jurisdictions
aim to achieve welfare and protection for women through legal ijtihad appropriate to the
context of each country.
Keywords: Taklik Talak, KHI, EUUKI Terengganu, Legal Comparison.


Preview