Abstak
STUDI PENANGANAN MISSING LINK KOTA BOGOR (Studi Kasus
Missing Link Kota Bogor:). Kota Bogor merupakan kota lama yang sudah ditata
sejak masa pemerintahan Belanda yang difungsikan sebagai “Buitenzorg” yang
memiliki arti tempat peristirahatan. Kota Bogor yang terletak sangat dekat
dengan Ibukota Negara dan menjadi salah satu suburban Provinsi DKI Jakarta
yang terletak di sebelah selatan DKI Jakarta, hal ini menjadi potensi yang strategis
bagi perkembangan dan percepatan pembangunan kota dan pertumbuhan ekonomi
dan jasa. Kota Bogor secara geografis terletak diantara 106°43’30”BT –
106°51’00”BT dan 6°30’30”LS – 6°41’00”LS, dengan jarak ±56 km ke arah
selatan dari Ibukota DKI Jakarta dan ±120 km ke arah barat dari Kota Bandung
sebagai Ibukota Provinsi Jawa Barat. Kedudukan geografis Kota Bogor berada di
tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Luas wilayah Kota Bogor sebesar 118,6
km2, kecamatan terluas di Kota Bogor adalah Kecamatan Bogor Barat. Kota
Bogor terdiri dari 6 kecamatan dan 68 kelurahan dengan rincian luas wilayah pada
tiap kecamatan. Kota Bogor berada di ketinggian 190 – 330 mdpl, dengan
kemiringan lereng sekitar 0-2% sampai dengan 40%. Kondisi klimatologi di Kota
Bogor memiliki rata-rata suhu 26°C, rata-rata kelembaban udara 82% serta rata
rata curah hujan pertahun 3.937,2 mm3. Wilayah Kota Bogor dialiri oleh 2 sungai
besar dan 7 anak sungai, 2 sungai besar tersebut adalah Sungai Ciliwung dan
Cisadane. Pada tahun 2017 berdasarkan data BPS yaitu Kota Bogor dalam angka
tahun 2018 jumlah penduduk di Kota Bogor mencapai 1.081.009 jiwa, yang
terdiri atas laki-laki sebanyak 548.196 jiwa dan perempuan sebanyak 532.813
jiwa. Berkaitan dengan pentingnya peranan jaringan jalan dan konektivitas
angkutan umum di wilayah Kota Bogor muncul permasalah yang di sebut missing
link. Tujuan dari penelitian ini ditinjau dari aspek kinerja jaringan jalan,
keterhubungan pusat kegiatan, kawasan TOD dan simpul transportasi, lalu didapat
dengan membebankan Matriks Asal Tujuan (MAT) ke jaringan jalan dengan
bantuan Software pemodelan transportasi menggunakan Saturn. Kecepatan
perjalanan antar kota/kabupaten di Jabodetabek atau asal tujuan Kota Bogor. tidak
mencapai target kecepatan 40 km/jam, dan kecepatan antar wilayah dan di dalam
wilayah kabupaten/kota di kota Bogor. Kabupaten Tanggerang dan Kota
Tanggerang memiliki kecepatan rendah yaitu 29.29 km/jam dan 30.41
km/jamSehingga perlunya peningkatan kapasitas jaringan jalan dari dan menuju
Kabupaten tangerang dan Kota Tanggerang untuk melayani kota Bogor,
sedangkan Kota Bogor memiliki kecepatan rata-rata di dalam kota yaitu 37.67
km/jam sehingga perlu di lakukan peningkatan kapasitas jaringan jalan
Kata Kunci : TOD (Transit Oriented Development), Angkutan Umum dan
Kecepatan